KARUNIA YANG SEMESTA
di wajah pagi tersolek sinar,
langit merentangkan sulur biru
tersimpan doa-doa yang tumbuh atas
damba
dari hamba yang setia memeluk kesuma
syukur
/dan kita
memulai hari-
menanam mimpi;
sekolah, kerja
di kening siang yang cerlang,
mentari menuai waktu dengan kecup
terik
merentangkan bayang tanpa pamrih
tak pernah ia menawar kasih
tumbuh hidup untuk kisah
/dan
kita meniti hari-
menabung
mimpi; ilmu, uang
di tengkuk sejuk sore,
angin menyulam bisik dedaun
merapikan sunyi jadi percakapan
singgah sebagai dialog senja semesta
untuk memastikan kita tak sendirian
dalam jagat luas di tubuh kita
/dan
kita memulangkan hari-
menyandarkan
waktu
semesta bagai menimang sanubari
melukis hari menjadi getar
meski berkelok, meski tersadar
arah pulang tak pernah ia ingkar
Seperti kita dalam rantau
tak saling
menuntut bertalu
jatuh bangkit dalam genggaman
bertahan dalam azali waktu
dari arum wijaya pusaka
yang ada dalam daksa diri
seperti fantasi bak bianglala
di depan angan mata
ketulusan adalah doa
dan pinta yang melangit
lewat pikat keteguhan
dunia penuh kedasih
hirup-hidup yang sahih
antara semesta dan kita.
-doa
hijau dan
hijau dan hijau
-damba
biru dan
biru dan biru
-hamba
usaha dan
usaha dan usaha
semesta
merestui
atas
segala kisah.
Sidoarjo, 01 Februari 2026

Comments
Post a Comment