IRISAN PEMATANG ROH


Langit merentang dada birunya
menyimpan doa yang tak sempat bersuara
ia setia memeluk cahaya kesuma
dan luka hujan yang jatuh Bersama

Mentari menulis pagi dengan api
menghangatkan bumi tanpa pamrih
tak pernah ia menawar kasih
memberi hidup lalu menepi

Angin menyulam bisik dedaunan
merapikan sunyi jadi percakapan
ia tak singgah untuk kepemilikan
hanya memastikan kita tak sendirian

Sungai menatah batu dengan sabar
melukis luka menjadi getar
meski berkelok, meski tersadar
arah pulang tak pernah ia ingkar

Seperti kita dalam perjalanan
tak saling menuntut kesempurnaan
jatuh dan bangkit dalam genggaman

Sidoarjo 2026



Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

PETUAH PUTIH YANG TERUS BERNAFAS

BILIK DIVERSITAS DALAM FANTASI

KARUNIA YANG SEMESTA